4.18. Akar Tindakan Manusia



Pembahasan sejauh ini menyimpulkan bahwa, pertama, penilaian moral hanya terkait pada tindakan sengaja yang didukung oleh adanya kehendak bebas. Itu pula yang menyebabkan Weber memberi istilah tindakan sosial dan bukan perilaku sosial.  Kita di sini   menyebutnya sebagai tindak komunikasi. Tanpa adanya kehendak bebas,  tidak ada tindakan sengaja,  membuat tidak ada penilain moralitas baik dan buruk dari kacamata ilmu komunikasi.

Kedua,  bahwa akar tindak komunikasi adalah falsafah hidup. Karena itu, untuk memahami tindak komunikasi yang dilakukan manusia adalah dengan melihat pada akarnya:  falsafah hidup yang dianut, yang dapat dilihat pada tiga soal pokok yang ingin dijawabnya, yakni dimana, apa, dan siapa.

Kembali pada kasus ketika Anda adalah seorang praktisi public relations dari suatu perusahaan farmasi peneliti AIDS, dimana ternyata ayah angkat Anda menyembunyikan fakta bahwa sejak beberapa tahun lalu telah menemukan obat anti AIDS, namun tidak mengumumkannya ke masyarakat. Akankah Anda sebarluaskan informasi ini, toh tidak ada orang lain yang tahu selain Anda?

Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat tergantung pada posisi-posisi bandul pendulum dalam falsafah hidup Anda:  apakah Anda lebih mementingkan duniawi, mementingkan materi yang Anda terima melalui perusahaan selama ini, mendahulukan kepentingan diri sendiri, ayah dan perusahaan? Atau, justeru sebaliknya? Kebahagiaan siapakah yang akan Anda dahulukan?

Semua pilihan ada pada diri Anda, pada falsafah hidup Anda, dan bermuara pada tindak komunikasi yang Anda lakukan.     Rangkaian sebab akibat berlangsung dalam diri Anda, namun bersifat humanistis, tidak mekanistis, terjadi unik pada diri Anda, karena individu lain mungkin melakukan pilihan yang lain.

Apabila tindak komunikasi yang Anda lakukan sesuai dengan hatinurani Anda, maka Anda akan tersanjung, walau tidak ada yang menyanjung. Jika bertentangan dengannya,  seolah ada yang menghukum, Anda merasa “dikejar dosa”. Maka bagi orang  beragama, hatinurani adalah suara Tuhan. Ia subjektif, melekat pada individunya, membuat positivisme menolak  masalah ini,  karena baginya tidak ilmiah. Namun bagi nonpositivit, ini alamiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar