4.19 Falsafah Hidup: Individu, Organisasi, Massa

Tataran Pribadi

Manusia dimana pun berada, kapan pun ia hidup, apapun agama, kebangsaan, atau pekerjaannya  memiliki tujuan hidup yang sama: memperoleh kebahagiaan pada berbagai bidang kehidupan. Pada saat individu manusia mencari dan berusaha menemukan kebahagiaan, ia menghadapi tiga persoalan pokok. Hal ini membedakan individu yang satu dengan yang lain. Jawaban atas tiga soal pokok merupakan falsafah hidup manusia yang bersangkutan.

Hoeta Soehoet menamakan teori seperti ini sebagai Filsafat Hidup Kebahagiaan. Ia mengidentifikasi adanya 27 varian dari jawaban atas tiga soal pokok tersebut. Dan, karena manusia memiliki bidang kehidupan yang beragam,  aplikasi pada berbagai bidang kehidupan manusia  membuat  dapat ditemukan lebih dari 27 kemungkinan varian falsafah hidup atas tiga soal pokok tersebut  (2003: 25-36).

Tataran Organisasi

Dalam tataran ini, visi dan misi organisasi akan menentukan tindak komunikasi dari organisasi beserta seluruh individu yang berada dalam organisasi itu. Visi dan misi adalah falsafah hidup organisasi. Terkadang seorang karyawan percoban merasa “tidak betas” berada dalam suatu organisasi yang baru dimasuki. Dalam hal  ini dinyatakan, falsafah hidupnya bertentangan dengan falsafah hidup organisasi.

Tataran Massa

Kumpulan individu dalam satu wilayah membentuk masyarakat.  Dan, kumpulan masyarakat dalam satu wilayah yang berdaulat membentuk negara.  Tugas negara adalah mengatur hak dan kewajiban individu warganegaranya. Dengan demikian,   negara – sebagai kumpulan individu –  pun memiliki falsafah hidup.
Bagi bangsa Indonesia, falsafah hidup berbangsa dan bernegara adalah Pancasila. Pancasila sebagai falsafah hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia mengandung nilai-nilai teragung yang jika diwujudkan  masyarakat  Indonesia meyakini  akan memperoleh kebahagiaan.

Sebagaimana pada tataran individu, falsafah hidup suatu bangsa atau negara dapat dilihat dengan mengkaji tiga persoalan pokok  menyangkut kebahagiaan. Mengingat bahwa terdapat lebih dari 27 varian kemungkinan atas tiga soal pokok, untuk diskusi kali ini   mari berfokus hanya pada satu  pertanyaan: siapakah yang didahulukan dalam meraih kebahagiaan dalam kehidupan bernegara? Individu atau masyarakat?

Berdasarkan hal ini, dalam titik ekstremnya   dapat dinyatakan:  Apabila negara lebih mendahulukan kepentingan individu, dimana hak-hak individu lebih diutamakan, maka ia menganut individualisme dan negara diatur secara liberalisme. Sebaliknya, jika negara lebih mengutamakan hak masyarakat dengan mengecilkan hak-hak individu, ia menganut sosialisme,  dan negara diatur dengan sistem autoritarianisme. Hal ini antara lain  tercermin pada sistem komunikasi massa (pers) yang dianut.

Dengan demikian, apabila  kembali pada isu aksiologis yang menjadi tema  bab ini,   dapat dinyatakan bahwa:   untuk melihat bagaimana manusia mengaplikasikan komunikasi dan ilmu komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, antara lain dapat dikaji melalui  sistem pers  yang dianut; dimana sistem pers itu dapat ditelaah melalui falsafah hidup berbangsa dan bernegara; karena darinyalah  ditentukan tindak komunikasi warganegaranya.   Untuk itu, berikut ini adalah  Teori Pers yang akan digunakan sebagai  sampel untuk melihat falsafah hidup suatu negara.

Masalah ini  dikupas melalui pertanyaan: manakah yang didahulukan, kepentingan dan kebahagiaan  individu atau masyarakat/negara?
*
Khusus mengenai aplikasi falsafah hidup dalam  Empat Teori Pers, Anda dapat  meng-klik di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar